TK Muslim Al Ma’arif

Mengingat Pesan Rasulullah ?: Dunia Adalah Gua, Jangan Keluar dengan Tangan Kosong.

📅 16 September 2026 · ✍️ SITI MASRIYANI
Mengingat Pesan Rasulullah ?: Dunia Adalah Gua, Jangan Keluar dengan Tangan Kosong.
menyimak pelajaran dari kitab Nashoihul Ibad. Pembahasan membawa kita pada sebuah perumpamaan yang sederhana, tetapi begitu dalam: dunia seperti sebuah gua yang gelap.
## Kajian Rutin Rabu: Menyiapkan Bekal Sebelum Keluar dari Gua

Dalam kajian rutin hari Rabu kali ini, kita kembali menyimak pelajaran dari kitab **Nashoihul Ibad**, sebuah kitab yang berisi nasihat-nasihat yang mengajak kita untuk memperbaiki diri dan mempersiapkan bekal menuju kehidupan akhirat.

Pada kajian kali ini, pembahasannya membawa kita pada sebuah renungan tentang **akhir zaman, pentingnya mendekat kepada ulama dan majelis ilmu, serta bagaimana seharusnya kita mempersiapkan bekal sebelum meninggalkan dunia.**

Gua Gelap Bernama Dunia

Bayangkan seseorang berada di dalam gua yang benar-benar gelap.

Ia tidak dapat melihat dengan jelas apa yang ada di sekelilingnya.

Kemudian ia diperintahkan:

“Ambillah sebanyak-banyaknya.”

Orang yang tidak percaya mungkin akan mengambil sedikit.

Ada yang berpikir, “Untuk apa mengambil banyak? Toh aku tidak tahu benda apa ini.”

Ada pula yang malas dan memilih berjalan tanpa membawa apa-apa.

Tetapi ada seseorang yang percaya kepada orang yang memberinya petunjuk.

Ia terus mengambil.

Tangannya mungkin lelah.

Bawaannya mungkin terasa berat.

Ia mungkin tidak memahami apa sebenarnya yang sedang ia kumpulkan.

Tetapi ia tetap percaya dan terus berjalan.

Kemudian mereka semua keluar dari gua.

Di luar ternyata terang.

Barulah mereka dapat melihat dengan jelas.

Benda-benda yang dahulu dianggap tidak berharga ternyata adalah intan, permata, dan harta yang sangat mahal.

Pada saat itulah penyesalan datang.

Bukan karena mereka tidak pernah diberi kesempatan.

Tetapi karena kesempatan itu sebenarnya sudah ada, hanya saja dahulu mereka tidak menyadari nilainya.

Begitulah dunia.

Kita berada di dalam “gua” yang penuh dengan sesuatu yang tidak selalu dapat kita lihat nilainya.

## Ketika Manusia Menjauh dari Ulama dan Majelis Ilmu

Ada pesan Rasulullah ? yang mengingatkan tentang masa ketika manusia mulai **menjauh dari ulama dan ahli ilmu**.

Ketika ilmu agama tidak lagi menjadi tempat untuk mencari arah, manusia bisa semakin mudah berjalan hanya mengikuti apa yang terlihat dan apa yang diinginkannya.

Padahal, sebagaimana seseorang membutuhkan petunjuk ketika berada di dalam gua yang gelap, kita pun membutuhkan ilmu agar tidak salah dalam menentukan bekal kehidupan.

Dalam nasihat yang dikaji, menjauhnya manusia dari ulama dan ilmu tersebut disebut membawa akibat yang sangat berat: **hilangnya keberkahan dari rezeki dan usaha yang kita kerjakan, datangnya pemimpin yang zalim, serta meninggal dalam keadaan kehilangan iman.**

Peringatan ini tentu bukan sekadar untuk membuat kita takut.

Justru ia mengajak kita untuk bertanya kepada diri sendiri:

**Seberapa dekat kita dengan ilmu?**

Apakah kita masih mau duduk di majelis ilmu?

Apakah kita masih mau mendengarkan nasihat dari orang-orang yang lebih berilmu?

Apakah ketika tidak mengetahui sesuatu, kita mau bertanya kepada orang yang memahami?

Sebab seseorang yang berada dalam kegelapan membutuhkan petunjuk.

Ia tidak dapat melihat sendiri apa yang ada di hadapannya.

Begitu pula kita dalam menjalani kehidupan.

Kita membutuhkan ilmu agar tidak salah mengambil bekal.

### Ketika Keberkahan Rezeki Mulai Kita Lupakan

Peringatan tentang **hilangnya keberkahan rezeki** juga mengajak kita melihat kembali cara kita mencari dan menggunakan apa yang Allah titipkan.

Sering kali kita bertanya:

*“Bagaimana agar penghasilan saya bertambah?”*

Mungkin sesekali kita perlu mengubah pertanyaannya menjadi:

**“Bagaimana agar apa yang saya dapatkan menjadi berkah?”**

Sebab keberkahan bukan hanya tentang banyaknya sesuatu yang kita miliki.

Ada rezeki yang mungkin terlihat sedikit, tetapi menghadirkan ketenangan, kecukupan, dan kebaikan.

Ada pula sesuatu yang terlihat banyak, tetapi tidak selalu membawa ketenteraman.

Maka peringatan ini bukan berarti setiap kesulitan rezeki pasti merupakan tanda hilangnya keberkahan.

Lebih dari itu, ia menjadi cermin bagi kita untuk bertanya:

**Bagaimana cara kita mendapatkan rezeki?**

**Dari mana kita mendapatkannya?**

**Dan untuk apa kita menggunakannya?**

Jangan sampai kita begitu sibuk mengumpulkan apa yang ada di dalam gua, tetapi lupa memastikan apakah yang kita bawa benar-benar menjadi bekal yang baik untuk perjalanan pulang.

### Ketika Pemimpin yang Zalim Menjadi Peringatan

Begitu pula dengan peringatan tentang **datangnya pemimpin yang zalim**.

Mendengar bagian ini, mungkin pikiran kita langsung tertuju kepada orang lain.

Kepada mereka yang memegang kekuasaan.

Kepada mereka yang memiliki jabatan.

Tetapi kajian ini justru mengajak kita untuk tidak berhenti pada pertanyaan tentang *“siapa yang memimpin kita?”*

Ada pertanyaan lain yang mungkin lebih dekat:

**“Bagaimana ketika kita sendiri diberi amanah untuk memimpin?”**

Di rumah, di tempat kerja, di sekolah, di organisasi, atau bahkan dalam lingkup kecil kehidupan kita, bukankah kita juga pernah berada pada posisi di mana keputusan kita berpengaruh kepada orang lain?

Maka sebelum meminta pemimpin yang adil, mari belajar menjadi pribadi yang adil.

Sebelum berharap orang lain menjaga amanah, mari belajar menjaga amanah yang diberikan kepada kita.

Karena nasihat tentang keadaan zaman seharusnya tidak hanya membuat kita melihat ke luar.

Ia juga mengajak kita **bercermin ke dalam.**

Dan dari sinilah pembahasan kemudian membawa kita kepada empat wasiat Luqman Al-Hakim: bagaimana menjaga diri, agar hati, lisan, pandangan, dan perut tetap berada dalam penjagaan selama perjalanan hidup ini.

Empat Penjagaan dari Wasiat Luqman Al-Hakim

Pembahasan kemudian berlanjut kepada nasihat Luqman Al-Hakim kepada anaknya.

Ada empat hal yang perlu dijaga dalam kehidupan: hati, lisan, pandangan, dan perut.

1. Jagalah Hati

Hifzhul Qalbi — menjaga hati.

Terutama ketika kita sedang berhadapan dengan Allah.

Hati adalah tempat tumbuhnya niat.

Karena itu, jangan hanya memperhatikan apa yang tampak dari luar. Perhatikan pula apa yang sedang hidup di dalam hati.

Ketika shalat, hadirkan hati.

Ketika beribadah, luruskan niat.

Ketika berbuat baik, jangan sampai kebaikan itu justru membawa kesombongan.

Sebab amal yang terlihat besar belum tentu besar nilainya jika hati tidak menjaganya.

2. Jagalah Lisan

Hifzhul Lisan — menjaga lisan.

Terutama ketika berada di tengah manusia.

Betapa banyak masalah yang bermula dari satu kalimat.

Satu perkataan dapat membuat orang lain bahagia.

Tetapi satu perkataan juga dapat meninggalkan luka yang bertahun-tahun.

Karena itu, sebelum berbicara, ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri:

Apakah perkataan ini perlu? Apakah benar? Apakah akan membawa kebaikan?

Tidak semua yang kita tahu harus kita ucapkan.

Tidak semua yang kita rasakan harus kita sampaikan.

Kadang diam adalah bentuk penjagaan.

3. Jagalah Pandangan

Hifzhul Bashar — menjaga pandangan.

Ketika kita bertamu atau berada di wilayah dan rumah orang lain, tundukkan pandangan.

Jangan biarkan mata kita menyelidiki sesuatu yang tidak pantas untuk dilihat.

Menjaga pandangan bukan hanya tentang apa yang haram dilihat.

Ia juga mengajarkan kepada kita tentang adab: menghormati privasi, menjaga kesopanan, dan tidak mencampuri sesuatu yang bukan hak kita.

Karena mata sering menjadi pintu pertama menuju hati.

4. Jagalah Perut

Hifzhul Bathn — menjaga perut.

Ketika disuguhi makanan, perhatikan apa yang masuk ke dalam tubuh kita.

Pastikan makanan itu halal dan baik.

Dan jangan berlebihan.

Makan bukan hanya perkara kenyang.

Apa yang kita masukkan ke dalam tubuh juga menjadi bagian dari kehidupan kita.

Karena itu, ajaran Islam tidak hanya mengajarkan kita untuk mencari makanan yang halal, tetapi juga mengajarkan kesederhanaan dan pengendalian diri.

Akhir Zaman Bukan Sekadar Untuk Ditakuti

Mendengar pembahasan tentang akhir zaman terkadang membuat hati merasa takut.

Tetapi mungkin pesan yang lebih penting bukan sekadar rasa takut itu.

Peringatan seharusnya membuat kita bersiap.

Kalau dunia adalah gua gelap, maka selama kita masih berada di dalamnya, kita masih memiliki kesempatan untuk mengambil sebanyak-banyaknya bekal.

Mari kembali mendekat kepada majelis ilmu.

Mari menghargai para guru dan ulama yang mengajarkan ilmu.

Mari menjaga shalat dan Al-Qur'an.

Mari memperbanyak amal baik meskipun terlihat sederhana.

Mari menjaga hati, lisan, pandangan, dan apa yang masuk ke dalam tubuh kita.

Sebab suatu hari nanti kita semua akan keluar dari “gua” ini.

Saat itu, tidak ada lagi kesempatan untuk kembali dan mengambil satu permata pun.

Maka selagi masih diberi waktu, jangan berjalan dengan tangan kosong.

Barangkali satu amal yang hari ini terasa kecil, justru menjadi sesuatu yang paling kita syukuri ketika seluruh kehidupan dunia telah selesai.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang tidak menyesal ketika waktunya tiba.
MOMEN DALAM CERITA

Galeri Kegiatan

Mengingat Pesan Rasulullah ?: Dunia Adalah Gua, Jangan Keluar dengan Tangan Kosong.
Mengingat Pesan Rasulullah ?: Dunia Adalah Gua, Jangan Keluar dengan Tangan Kosong.
Mengingat Pesan Rasulullah ?: Dunia Adalah Gua, Jangan Keluar dengan Tangan Kosong.
🌱

Setiap kegiatan memiliki cerita. Setiap cerita menjadi bagian dari perjalanan tumbuh anak.